SRIPOKUCOM, INDRALAYA - Hari keempat hilangnya seorang warga yang hanyut di Sungai Ogan, Tim SAR terus melakukan pencarian. Orang tenggelam diketahui bernama Selamat Riadi yang hanyut di Sungai Ogan wilayah Desa Santapan Timur, Kecamatan Kandis, Kabupaten Ogan Ilir, pada Jumat (4/6/2021) lalu.. Tim SAR terdiri dari BASARNAS Palembang, BPBD Ogan Ilir dan Polsek Rantau Alai, masih terus
Tidakhanya penyelam, Tim SAR Gabungan sudah menurunkan remotely operated vehicle (ROV) untuk menemukan CVR. "Dan masih belum ada hasil yang kami dapatkan," jelas Bagus. Namun demikian, tim di lapangan tidak menyerah. Setelah menurunkan penyelam dan ROV, mala mini mereka kembali mencari kotak hitam tersebut menggunakan sonar.
Upayaevakuasi korban tewas dari dasar waduk bukan perkara mudah. Selain jarak pandang terbatas, banyak tali dari warung apung dan karamba, risiko terluka juga cukup besar. Seperti dialami salah seorang anggota tim penyelam. "Tim penyelam terkena pisau selam saat hendak melepaskan diri dari jeratan tali tambatan warung apung," pungkasnya
KBRN Jakarta: Polri terjunkan Tim SAR Brimob untuk proses pencarian pesawat Sriwijaya yang diperkirakan jatuh di Kepulauan Seribu. Pesawat rute Jakarta-Pontianak hilang kontak setelah beberapa saat take off dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Komandan Pasukan Pelopor Korbrimob Polri Brigjen Pol Imam
Bone, Sulawesi Selatan. Nasib malang di timpa oleh Arjun (22 tahun) warga Desa Binuang Kecamatan Libureng Kabupaten Bone. Pasalnya menurut informasi dari salah satu warga, remaja yang mengidap penyakit gangguan jiwa ini hilang di sekitar aliran sungai Libureng sore kemarin ( Minggu, 14/02/21) sekitar pukul 18.17 Wita. Kuat dugaan korban terpeleset hingga masuk
Skanaacom, Seorang remaja yang hanyut saat mandi-mandi di Palo Banda Sungai Kampung Ganting Kubang, Nagari Kambang Utara, Kecamatan Lengayang, Korban Hanyut di Pessel Belum Berhasil Ditemukan, Tim SAR Masih Lakukan Pencarian - Skanaa
Korbansaat Hendak Dibawa ke Rumah Sakit, foto : Mael/ - Nevlita Eliana (14), seorang Bocah yang Tenggelam di Sungai Pulai Tanjungpinang Ditemukan Tidak Bernyawa - Detak Media DM - Nevlita Eliana (13), seorang bocah wanita ini ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, usai tenggelam di Sungai Pulai Tanjungpinang, pada Sabtu (6/8
AMLAPURA Proses pencarian seseorang penyelam yang hilang saat melakukan penelitian di bawah laut perairan Tapekong, Candidasa, Karangasem terus dilakukan. Sampai proses pencarian memasuki hari ketiga, Senin (14/12), Tim gabungan Basarnas, Polair Karangasem dan Bakamla masih belum membuahkan hasil.
KepalaBasarnas Ternate Fathur Rahman mengatakan bahwa pada hari keempat tim penyelamat fokus melakukan penyelaman di lokasi bangkai KM Cahaya Arafah. Tim SAR meliputi 20 penyelam, termasuk dua penyelam berkewarganegaraan asing dari Nabucco Spice Island Resort, untuk menemukan sembilan korban kecelakaan kapal yang belum ditemukan.
Usai black box alias kotak hitam pesawat Lion Air PK - LQP nomor penerbangan JT610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang ditemukan, tim SAR gabungan masih berusaha mencari korban dan badan pesawat di dasar laut.. Pencarian terus dilakukan dengan menerjunkan 119 orang penyelam yang berasal dari tim SAR gabungan.. Penyelam tersebut akan melakukan pencarian selama 24 jam.
knVR. Kejadian pembunuhan kejam ini berlaku pada tahun 2018. Tahun itu, Hakan Aysal adalah seorang lelaki berusia 40 tahun yang bekerja sebagai seorang pekerja bank. Isteri Hakan pula bernama Semra. Tidak dapat dipastikan tentang pekerjaan Semra. Cuma menurut keterangan daripada keluarga serta kenalan mereka, Hakan dan Semra digambarkan sebagai pasangan suami isteri yang tidak bermasalah daripada luaran. Kisah sebenar bagaimanapun bermula pada bulan Jun 2018 apabila Hakan telah mengajak Semra yang sedang hamil bulan waktu itu untuk melakukan pendakian di kawasan bukit yakni bertempat di Butterfly Valley, Mugla, tenggara Turki. Semra mula-mulanya menolakan ajakan tersebut kerana keadaan semasanya yang sering mengalami kepenatan. Namun selepas dipujuk secara berkali-kali oleh Hakan dengan cara paksaan, Semra akhirnya bersetuju untuk mengikut suaminya itu. Jadi pada 16 Jun 2018, Hakan dan Semra pun pergi ke kawasan bukit di lokasi berkenaan. Setibanya di situ, Hakan telah mengajak Semra untuk mendaki ke kawasan puncak bukit dengan alasan untuk menikmati pemandangan indah. Hakan langsung tidak mempedulikan keluhan Semra yang berasa sangat penat untuk meneruskan pendakian. Sampai di kawasan puncak bukit tersebut, Hakan dan Semra mengambil gambar swafoto untuk dijadikan sebagai salah satu kenangan terindah dalam hidup masing-masing. Mereka berdua berada di kawasan puncak bukit itu selama tiga jam lamanya dengan keadaan cuaca yang panas terik. Apa yang berlaku kemudian, Semra tiba-tiba telah terjatuh dari bukit tersebut lalu badannya terhempap atas batu di sekaligus menyebabkannya mati serta-merta di lokasi kejadian. Insiden itu seterusnya dilaporkan Hakan kepada pihak berkuasa. Susulan laporan daripada Hakan tersebut, pihak polis tidak melengahkan masa untuk melakukan pencarian. Usaha pencarian itu ternyata tidak sia-sia apabila mayatnya berjaya ditemui dalam tempoh 8 jam. Menyedihkan, mayat Semra dan janin kandungannya ditemui di lokasi yang berbeza. Perkara ini bermaksud, janin Semra telah terkeluar dari perutnya semasa dia terjatuh. Pada mulanya, kematian Semra ini dipercayai berpunca daripada insiden kemalangan yang tidak disengajakan. Walau bagaimanapun, keluarga Semra ternyata mencurigai Hakan setelah melihat sendiri reaksi lelaki tersebut yang kelihatan tenang sewaktu tiba di bilik forensik untuk mengambil mayat Semra. Malah Hakan langsung tidak keluar dari kereta ketika itu. Bayangkan, tiada sebarang respon daripada seorang suami yang baru saja kematian isteri. Keluarga Semra juga tahu mengenai Semra adalah seorang yang takutkan ketinggian. Jadi agak mustahil Semra berdiri di tepi puncak bukit dengan rela hati. Tidak lama sesudah kematian Semra, Hakan telah pergi bercuti dan siap memuatnaik fotonya di laman media sosial dengan wajah yang gembira. Pada masa sama, keluarga Semra mendapat tahu mengenai pinjaman wang yang pernah dibuat oleh Hakan daripada tiga sumber peminjaman berbeza dengan menggunakan nama Semra. Rentetan daripada beberapa perkara ini, keluarga Semra akhirnya membuat laporan polis berhubung dengan rasa kecurigaan mereka terhadap Hakan. Berdasarkan siasatan secara terperinci yang pihak polis jalankan, Hakan didapati ada melakukan cubaan untuk menuntut wang insurant hayat isterinya yang dianggarkan berjumlah sebanyak 400 000 lira Turki RM250 000 dengan Hakan dinamakan sebagai penama penerima. Maka Hakan pun ditangkap oleh pihak polis untuk siasatan selanjutnya. Menerusi keterangan daripada Hakan soal hari kejadian, Semra memang terjatuh sendiri tanpa dia sedari. Cerita Hakan lagi, dia tidak menyedari kejadian tersebut kerana dirinya sedang mengambil telefon di dalam tas tangan Semra. Pihak pendakwaan bagaimanapun mendakwa kematian Semra merupakan satu pembunuhan terancang oleh Hakan dengan bermotifkan untuk wang insurans nyawa. Hakan juga didakwa sengaja untuk menghabiskan masa di atas puncak bukit itu selama tiga jam kerana ingin memastikan tiada sesiapa yang berada di kawasan sekitar sebelum melakukan pembunuhan. Seperkara harus diketahui, ada saksi yang kebetulan berada di kawasan puncak bukit pada waktu kejadian sempat untuk merakam aksi Hakan bersama Semra. Rakaman video tersebut dilakukan oleh saksi itu kerana ada lagak yang mencurigakan daripada Hakan. Harus diingatkan, rakaman tersebut bukan rakaman pembunuhan. Berhubung dengan keputusan perbicaraan kes pada bulan Februari 2022, Hakan yang didapati bersalah menolak Semra dari tebing bukit hingga menyebabkan kematian telah menerima hukuman penjara selama 30 tahun tanpa sebarang pembebasan bersyarat.
Sampai Senin 14/12/2020 siang, Tim SAR masih mencari seorang penyelam muda anggota tim penelitian pola gerak hiu di perairan Kabupaten Karangasem, Bali yang hilang sejak Sabtu 12/12/2020 Tim penyelam dari lintas lembaga pemerintah dan organisasi ini sedang bekerja dalam program pemantauan pola gerak hiu dikoordinir WWF Indonesia. Seorang penyelam muda yaitu I Gede Surya Risuana dari DKP Provinsi Bali tak muncul di permukaan setelah pemeriksaan alat receiver penelitian di bawah laut. Pencarian sudah dilakukan di bawah laut dan menyisir laut. Seorang penyelam yang menjadi bagian dari program penelitian pola gerak hiu hilang pada Sabtu 12/12/2020 di perairan Kabupaten Karangasem, Bali. Pencarian masih dilakukan pada hari ketiga, Senin 14/12/2020 ini dengan tantangan cuaca buruk. Beberapa hari ini hujan deras dan kadang angin kencang di sebagian area Bali. I Gede Surya Risuana, penyelam muda perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan DKP Provinsi Bali hilang dengan perkiraan terbawa arus kuat yang sebelumnya tak terprediksi. Demikian ringkasan kronologis dari siaran pers bersama. Tim penyelam terdiri dari enam orang dari delapan jumlah anggota tim yang bekerja saat itu di laut. Sebanyak dua orang adalah tenaga ahli berpengalaman yang bersertifikat instruktur turun bersamaan dan dua orang tetap berjaga di kapal. Mereka melakukan penyelaman di Pulau Gili Tepekong, Kabupaten Karangasem, Bali, bermaksud memeriksa alat pendataan pola gerak hiu bagian dari Program Penelitian Pola Gerak Hiu. Tim peneliti gabungan melakukan penyelaman untuk mengambil alat pendataan pola gerak hiu receiver dan berencana untuk menggantinya dengan receiver baru. Saat tiba di lokasi, tim menunggu sekitar satu jam sebelum melakukan penyelaman hingga arus permukaan tenang dengan kondisi cuaca berawan. Setelah 10 menit penyelaman, satu per satu anggota tim muncul ke permukaan, namun hingga lebih dari 20 menit, Surya tak kunjung muncul. “Maaf, saya belum bisa mengangkat telpon dan ngasih keterangan. Mohon doanya supaya rekan kami segera ketemu dengan selamat ya,” kata Pumpun dari BPSPL Denpasar. Anggota tim program penelitian pola gerak hiu ini adalah Faqih Akbar Alghozali Yayasan WWF Indonesia, Rita Rachmawati Pusat Riset Perikanan Badan Riset Sumber Daya Manusia KKP, Mahardika Rizqi Himawan WWF Indonesia, Muhammad Wiralaga WWF Indonesia, I Gede Surya Risuana DKP-Bali, dan Yuniarti Karina Pumpun BPSPL Denpasar. Selain itu ada tenaga ahli independen WWF Indonesia sebagai Receiver Deployment and Monitoring Expert yakni Riyan Heri dan Agus Wirawan. Sedangkan dua lainnya adalah Kapten kapal I Nengah Sumarja dan Haeruman sebagai anak buah kapal. baca Banyak Kecelakaan Wisata Laut di Nusa Penida Bali. Ada Apa? I Gede Surya Risuana, penyelam dari DKP Provinsi Bali yang hilang dalam penelitian pola gerak hiu di perairan Kabupaten Karangasem, Bali, pada Sabtu 12/12/2020. Foto WWF Indonesia Yayasan WWF Indonesia selaku pengelola kegiatan penyelaman tersebut segera menghubungi dan meminta pertolongan kepada tim SAR gabungan dari BASARNAS Bali, POLAIRUD Karangasem, BAKAMLA, Balawista, dan TNI AL pos TNI Candidasa. I Gusti Ngurah Eka Wiyadnyana, Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem yang dikonfirmasi Mongabay Indonesia pada Senin 14/12/2020 mengatakan selama pencarian cuaca buruk seperti gelombang tinggi. “Masih di pencarian, sementara masih nihil. Cuaca buruk karena arus tinggi, boat jam 6 pagi turun di Pantai Jasri ke arah Timur sampai Seraya Timur,” jelasnya. Namun karena cuaca buruk, boat harus menepi sesaat. Tim penyelamat menurutnya harus menyesuaikan kondisi cuaca. Upaya pencarian di bawah laut juga tergantung arus permukaan dan arus bawah. “Kalau cuaca buruk tak bisa menyelam. Kalau bagus bisa mencari di lokasi penyelaman. Mengajak pemandu dan dive master,” tambahnya. Pencarian di laut menurutnya lebih sulit, berbeda dengan sungai. Tim pencari terdiri dari 12 personel Badan SAR Nasional BASARNAS, satu Rigit Inflatable Boat RIB BASARNAS, satu RIB BAKAMLA, satu speed boat Polair Polres Karangasem, dan satu Speed Boat Polair Polda Bali Pos Padangbai. Surya telah menjadi bagian tim peneliti sejak bulan September 2020, yaitu sebagai tim pendukung saat pemasangan alat receiver dan tim pemasang alat penanda pada hiu. “DKP Provinsi Bali secara resmi memberikan penugasan kepada I Gede Surya Risuana sebagai tim peneliti gabungan di program Penelitian Pola Gerak Hiu,” sebut I Made Sudarsana, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali dikutip dari siaran pers bersama. baca juga Ada Derita di Balik Keindahan Foto Bawah Laut Gabungan Tim SAR mencari hilangnya seorang penyelam muda I Gede Surya Risuana, anggota tim penelitian pola gerak hiu di perairan Kabupaten Karangasem, Bali, pada Minggu 13/12/2020. Foto Tim BASARNAS Bali Imam Musthofa , Head of Marine and Fisheries Yayasan WWF Indonesia yang dikonfirmasi mengatakan program pemantauan pola gerak hiu ini adalah kegiatan bersama. Progam ini untuk mendukung pemerintah mendeteksi habitat dan migratory, pola gerak spesies terancam penuh Hiu Martil dan Hiu Tikus untuk menjawab masalah ancaman by-catch dan CITES. Penelitian disebut mengikuti prosedur pusat sampai daerah. Penelitian tahun ini dijadwalkan juga di daerah lain seperti Lombok Barat. “Tapi fokus di Bali karena hambatan pandemi, sumber daya juga terbatas,” jelasnya. Ia menyebut receiver bisa diangkat saat dua penyelam berpengalaman turun lagi untuk penyelamatan setelah melapor ke BASARNAS. Kronologis Hilang dan Pencarian Kronologis hilang dan pencarian Surya sebagai berikut. Pada Sabtu 12/12/2020, sekitar pukul WITA, rombongan tim peneliti Proyek Penelitian Pola Gerak Hiu 8 orang berangkat dari Pantai Semawang, Sanur, menggunakan kapal EPSILON 2 yang dinahkodai kapten kapal dan satu orang ABK, menuju perairan antara Karangasem dan Nusa Penida untuk menyelam di sekitar Pulau Gili Tepekong. Anggota tim peneliti harus memiliki kondisi kesehatan yang baik, tim penyelam disyaratkan memiliki sertifikasi selam tingkat lanjut advanced open water, dan sudah melakukan sedikitnya 50 penyelaman sebelumnya. Penyelaman dilakukan untuk monitoring alat penerima sinyal receiver di kedalaman sekitar 32 meter yang dipasang pada 12 September 2020 untuk mengunduh data pola pergerakan hiu yang sudah didapat dalam waktu tiga bulan September-Desember. Kemudian menempatkan receiver yang baru untuk memantau pola pergerakan hiu selama tiga bulan kedepan. Sekitar pukul WITA, Kapal EPSILON 2 beserta rombongan tiba di perairan sebelah barat Gili Tepekong, Karangasem. Kondisi cuaca saat itu berawan dan keadaan laut berarus kuat di permukaan. Tim memutuskan untuk menunda penyelaman hingga kondisi laut lebih tenang. Pukul tim menilai kondisi laut sudah lebih baik dan arus tenang, dan memutuskan melakukan entry dive pertama pada pukul WITA. Tim yang beranggotakan enam orang penyelam melakukan entry bersamaan. Sebelum menyelam, dilakukan pengecekan alat dan semua alat dalam kondisi baik. Selang 10 menit, Wiralaga naik pertama karena tertinggal dengan yang lain dari estimasi kedalaman 20 m. Berikutnya, Yuniarti Karina Pumpun naik ke permukaan, diikuti Mahardika Rizqi Himawan dari kedalaman yang sama dengan Pumpun. Riyan Heri adalah anggota berikutnya yang naik ke permukaan setelah 13 menit dan terakhir Agus Wirawan naik setelah 18 menit. Kemungkinan besar I Gede Surya Risuana telah terpisah dari tim dalam 10 menit pertama yang diduga karena terbawa arus. Karena Surya belum muncul di permukaan, sekitar pukul WITA, tim peneliti Yayasan WWF Indonesia selaku pengelola kegiatan menghubungi BASARNAS dan POLAIRUD perlu dibaca Cerita Tragis Para Nelayan Penyelam Kompresor Gabungan Tim SAR mencari hilangnya seorang penyelam muda I Gede Surya Risuana, anggota tim penelitian pola gerak hiu di perairan Kabupaten Karangasem, Bali, pada Minggu 13/12/2020. Foto Tim BASARNAS Bali Hari itu langsung dilakukan pencarian hari pertama. Kira-kira pukul WITA, dilakukan pencarian dengan penyelaman oleh 2 anggota tim peneliti Riyan dan Agus dengan batas waktu maksimal 30 menit, karena kondisi perairan masih berarus kencang. Tim BASARNAS dan POLAIRUD melalukan pencarian ke area timur, barat, dan selatan dengan radius 1 km dengan jalur sweeping melingkar dari Selatan Gili Tepekong, dibantu oleh Coast Guard dan Paradise Dive Operator. Pencarian hari kedua pada Minggu, 13 Desember 2020, BASARNAS Bali menambahkan upaya pencarian di area pencarian via udara menggunakan Helikopter Basarnas BOLCOW BO-105 HR-1521 dipimpin oleh Mayor Laut Handra Mildiawan selaku pilot dan Letda Laut Tanta Ananda S selaku co pilot. Tim Gabungan Basarnas akan terus melanjutkan pencarian sesuai standar pelaksanaan operasi SAR 7 hari. Surya adalah penelam muda yang aktif dalam sejumlah program konservasi di organisasi LSM dan pemerintah. Ia memiliki total penyelaman >80 logs dive . Terakhir menyelam pada 26 November 2020 dengan pengalaman menyelam mengikuti arus kencang atau drift dive di Nusa Penida. Gabungan Tim SAR masih mencari hilangnya seorang penyelam muda I Gede Surya Risuana, anggota tim penelitian pola gerak hiu di perairan Kabupaten Karangasem, Bali, pada Minggu 13/12/2020. Foto Tim BASARNAS Bali Artikel yang diterbitkan oleh
Mendiang Syachrul Anto, Pahlawan Yang Gugur Saat Evakuasi Lion Air Foto Facebook Syachrul Anto Seorang penyelam dari tim Basarnas dilaporkan meninggal saat bertugas mencari korban Lion Air di perairan Karawang, Jawa Barat, pada Jumat 2 November kemarin. Dream - Seorang penyelam dari tim Basarnas dilaporkan meninggal saat bertugas mencari korban Lion Air di perairan Karawang, Jawa Barat, pada Jumat 2 November kemarin. Dilansir korban diketahui bernama Syachrul Anto. Dia merupakan anggota dari Indonesia Diver Rescue Team. Dansatgas SAR, Kolonel Laut P Isswarto, mengatakan Syachrul meninggal diduga akibat mengalami dekompresi. " Diduga dekompresi karena tekanan. Bekerja tidak tahu waktu, harusnya naiknya pelan-pelan, lima meter berhenti dulu, sampai muncul ke permukaan. Dia mungkin langsung," kata Isswarto saat dihubungi Sabtu 3 November 2018. Isswarto menambahkan, aktivitas penyelaman untuk mencari korban dan serpihan pesawat Lion Air JT610 seharusnya telah berakhir pada pukul 1600 WIB. Hal ini dilakukan karena kondisi gelap dan cuaca yang kurang bersahabat. Namun, korban masih berada di bawah laut hingga pukul WIB. " Korban dari sipil, penyelam Basarnas," kata Isswarto. Saat ini jenazah Syachrul sudah berada di rumah duka di Surabaya, Jawa Timur. " Laporan ke saya hanya terjadi dekompresi. Terus dibawa ke chamber di KN Victory. Tindakan lanjut saya tidak monitor karena di bawah Basarnas," ujar Isswarto. 1 dari 4 halaman Detik-detik Penyelam Basarnas Meninggal Dream - Tim SAR terus melakukan upaya pencarian terhadap jasad para penumpang yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di perairan Karawang, Jawa Barat. Namun, di tengah upaya tersebut, tim SAR menerima kabar yang menyedihkan. Dilansir tim pencari korban Lion Air harus kehilangan salah seorang penyelam yang meninggal dunia saat bertugas Jumat, 2 November kemarin. Dansatgas SAR, Kolonel Laut P Isswarto, saat dihubungi membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan, kecelakaan terjadi sekitar Pukul WIB. Menurut Isswarto, korban adalah warga sipil yang menjadi anggota tim Basarnas yang bertugas menyelam untuk mencari korban Lion Air jatuh. " Korban dari sipil, penyelam Basarnas, di bawah Basarnas, bukan kita," kata Isswarto, Sabtu 3 November 2018. Isswarto menegaskan, pihaknya telah mengakhiri proses penyelaman untuk mencari korban Lion Air jatuh pada pukul WIB. Namun, dia merasa heran karena masih ada tim yang melakukan penyelaman hingga pukul WIB. " Sore jam setengah lima kecelakaan terjadi. Kita tutup jam 4 karena cuaca gelap, saya close. Tapi kok masih ada yang menyelam," terang dia. Jenazah korban telah dievakuasi sejak kemarin. 2 dari 4 halaman Temuan Mengejutkan di Lokasi Black Box Lion Air JT610 Dream - Tim Badan SAR Nasional Basarnas memaparkan sejumlah temuan berdasarkan visualisasi ROV dan penyelam di lokasi ditemukannya FDR black box Lion Air JT610. Ditemukan roda pesawat, puing badan pesawat dan beberapa korban. " Ada beberapa korban kita lihat sebarannya cukup luas. Kita melihat hal paling besar, roda pesawat, dua ban begitu, kemudian body cukup besar," kata Kabasarnas Marsekal Madya M Syaugi di posko evakuasi Lion Air di JICT 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis malam. Ia menjelaskan, temuan ini berdasarkan visualisasi alat canggih ROV yang diturunkan di lokasi penemuan FDR black box hingga pukul WIB. Tim penyelam lalu menyisir area dasar laut hingga pukul WIB. " Barang-barang itu ada di bawah kapal lokasi ditemukan black box. Kita sapu, sisir dari kapal itu ada kanan atas, kanan bawah, kiri atas, kiri bawah dan depan," ujarnya. Jaraknya sekitar 40-50 meter. Dan ternyata di situ banyak serpihan besar sepeti yang tim Basarnas ditemukan kemarin. Ia menambahkan, tidak semua temuan itu bisa diangkat ke kapal. Tim membutuhkan bantuan alat crane untuk mengangkat puing besar pesawat. 3 dari 4 halaman Penyelam Banyak Temukan Korban Lion Air JT610 di Bawah Laut Dream - Tim penyelam TNI Angkatan Laut AL menemukan badan pesawat Lion Air JT 610 dalam bentuk serpihan-serpihan kecil. Selain itu, mereka juga banyak menemukan bagian tubuh korban di dalam air. Penemuan puing dan bagian tubuh itu berada di kedalaman 25 hingga 35 meter di bawah laut. " Karena posisinya puing itu memang setelah diselami ternyata pecah tidak ada yang utuh. Tapi itu berserakan. Di dalam air masih bekerja, masih di dalam air dan masih bekerja dan moga-moga bagian yang masih besar. Tapi untuk diidentifikasi itu benar adalah pesawat Lion," kata Komandan Satuan Tugas SAR Kolonel Isswarto dikutip Dream dari Kamis 1 November 2018. Hingga saat ini tim penyelam masih terus bekerja di dalam air. " Terdiri dari Kopaska masih bekerja terus. Kita bekerja bersama agar kita bisa mengerjakan misi ini," ujarnya. Diketahui, badan pesawat Lion Air JT610 sudah ditemukan secara tersebar. Jaraknya 100-200 m dari ditemukannya black box dengan koordinat 05 48' S,107 07' E. Sumber 4 dari 4 halaman Penampakan Penumpang Lion Air JT610 Sesaat Sebelum Terbang Dream - Proses evakuasi korban pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di Tanjung Karawang hingga kini masih terus berlanjut. Tragedi kecelakaan pesawat dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang itu tentu menorehkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga tapi juga kepada kerabat korban. Belum lama ini seorang kerabat salah satu penumpang Lion Air JT 610 bernama Hizkia Jorry Saroinsong atau yang kerap disapa Jorry, membagikan sebuah foto yang menunjukkan suasana sesaat sebelum pesawat tersebut lepas landas Senin 28/10/2018 pagi. “ Jorry, teman seangkatan saya, FISIP 2013 ada di pesawat Lion JT610 pagi ini. Ini suasana persis sebelum dia naik pesawat. Sampai siang tadi saya dan teman-teman sekampus masih berharap Jorry selamat, tetapi baru saja diumumkan prediksi SAR_NASIONAL tidak ada yang selamat,” tulis akun Cittairlanie., seperti dilansir View image on Twitter© Dream Twitter Ads info and privacy Nyatanya Jorry sempat mengabadikan momen tersebut melalui akun Instagram-nya dengan nama ezjosa. Pada foto itu terlihat suasana ketika para penumpang sedang mengantre untuk masuk ke dalam kabin pesawat. © Akun sosial media Jorry Dalam keterangan foto tertulis “ telat bangun mba?” hal ini nampaknya merujuk kepada dua pramugari yang turut serta dalam antrean tersebut. ism, sumber Lion Air Jatuh Daftarkan email anda untuk berlangganan berita terbaru kami Terkait Jangan Lewatkan Editor's Pick 3 Pemicu Noda Hitam di Wajah, Lakukan Perawatan Rutin Santai di Pantai, Tantri Namirah Pilih Outfit Bolong tapi Penuh Gaya Style Sweet Simple Dara Arafah, Padukan Makeup Natural dan Outfit Cewek Bumi MUA Rias Pengantin dengan Barbie Look, Makeup Matanya Bikin Penasaran Menilik Fungsi SPF dan PA Pada Sun Protector Trending Bacaan Sholawat Haji dan Usaha agar Impian Berhaji Segera Terwujud Awaludin Syarif Abdulah - Menjaga Dan Mengembangkan Keberlanjutan Keuangan Haji BPKH Talks Pengertian Haji Qiran, Bacaan Niat, dan Tata Caranya Sesuai Ajaran Islam Haji adalah Rukun Islam Kelima, Wajib Dilakukan Umat Islam yang Memenuhi Syarat Doa Menyembelih Hewan Kurban untuk Orang Lain dan Hukum Mewakilkan Penyembelihan Viral Rumah Mungil Tanpa Sekat, Vibesnya Serasa Masuk ke Hotel Bintang Lima, Lihat Potretnya Ingin Bahagia di Dunia dan Akhirat? Amalkanlah Doa Paman Nabi SAW yang Singkat Ini Rumah Artis di Tengah Hutan yang Jarang Tersorot